Demam Berdarah Masih Mewabah

mosquito-min-1

Hai, Pioneer sekalian!

Pernahkah mendengar kata demam berdarah?Pasti sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Demam Berdarah Dengue (DBD) atau yang sering kita kenal sebagai demam berdarah merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, yang dapat ditularkan oleh spesies nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Demam berdarah banyak tersebar di daerah tropis seperti Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penyakit ini merupakan penyakit menular, dengan tanda-tanda gejala yang menyertai berupa demam mendadak yang bisa mencapai suhu 40-41 o C selama dua sampai tujuh hari tanpa penyebab yang jelas, lemah/lesu, gelisah, nyeri ulu hati, disertai tanda pendarahan di kulit berupa bintik pendarahan, lebam, atau ruam. Selain itu terdapat juga gejala lain, seperti rasa sakit di belakang mata, otot, dan sendi, hilangnya nafsu makan, serta dapat muncul kecenderungan pendarahan seperti memar, hidung dan gusi berdarah, dan juga pendarahan dalam tubuh.

Fase-fase terjadinya demam berdarah wajib Pioneer ketahui, sebagai penduduk wilayah yang beresiko terkena penyakit ini.

1. Hari Pertama : demam mendadak terus-menerus, badan lemah/lesu. Tahap ini sulit dibedakan dengan penyakit lain

2. Hari kedua/ketiga : timbul bintik-bintik pendarahan, lebam, atau ruam pada kulit muka, dada, lengan atau kaki, dan nyeri ulu hati.

3. Antara hari ketiga sampai ketujuh, panas turun secara tiba-tiba.

Penurunan secara tiba-tiba ini merupakan pertanda satu di antara dua hal berikut, yaitu penderita sembuh atau keadaan yang semakin memburuk. Trombositopenia atau penurunan jumlah trombosit (keping darah) dalam darah, menjadi salah satu gejala klinis acuan diagnosa menurut WHO. Turunnya jumlah trombosit ini umumnya terjadi beberapa hari setelah demam, masih normal hingga hari ketiga. Penyebab turunnya nilai trombosit ini diakibatkan memendeknya umur trombosit (degradasi trombosit), sehingga jumlah menjadi menurun. Pengaruh virus dengue terhadap trombosit ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan para ahli.

Selain itu, perlu diperhatikan juga nilai hematokrit yang mulai meningkat pada hari ketiga dan meningkat seiring perjalanan DBD. Peningkatan nilai hematokrit ini disebabkan adanya kebocoran plasma ke ruang antarsel dalam tubuh, sehingga volume plasma menjadi berkurang.

Pengobatan untuk DBD, yaitu dengan memberikan obat-obatan penurun demam dan rasa sakit. Hal yang penting adalah menjaga jumlah cairan dalam tubuh, misalnya dengan banyak minum. Untuk pencegahan DBD harus diawasi tempat yang berpotensi sebagai tempat berkembang biak nyamuk, seperti genangan air, gunakan pakaian lengan panjang, atau dengan menggunakan obat nyamuk. Sekarang juga sudah dikembangkan vaksin untuk pencegahan DBD, yaitu vaksin LAV, vaksin chimera, vaksin DNA dengue, dan vaksin DENV terinaktivasi.

Amin, H. Z., and Saleha, S., 2013, Perkembangan Mutakhir Vaksin Demam Berdarah Dengue, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, diunduh pada 11 Mei 2017, dari http://journal.ui.ac.id/index.php/eJKI/article/viewFile/3007/2466

A Rena, N. M. R., Susila, U., and Tuty, P. M., 2009, Kelainan Hematologi pada Demam Berdarah Dengue, Jurnal Penyakit dalam, diunduh pada 11 Mei 2017, dari http://ojs.unud.ac.id/index.php/jim%20/article/viewFile/3932/2924

Departemen Kesehatan, Demam Berdarah, diunduh pada 10 Mei 2017, dari http://www.chp.gov.hk/files/pdf/ol_dengue_fever_indonesian_version.p

Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2011, Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, diunduh pada 10 Mei 2017, dari http://www.pppl.depkes.go.id/_asset/_download/manajemen%20DBD_all.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *