Kenalan Dulu Yuk dengan CTM

Haloo Pioneers, tahu kah kalian tentang CTM? CTM ini sudah tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat atas maupun bawah, baik remaja maupun orang-orang dewasa. Lalu apa kegunaan dari obat CTM ini? Mari kita pelajari lebih lanjut.

CTM merupakan salah satu merk dagang untuk obat antihistamin golongan H1 yang berisi zat aktif Chlorpheramine maleat. Biasanya obat ini digunakan untuk orang-orang yang terkena penyakit alergi, gatal-gatal, urtikaria (biduran), eksim (pembentukan lepuh atau gelembung kecil pada kulit yang berisi suatu cairan), serta pruritus (rasa gatal pada kulit yang menimbulkan rangsangan untuk menggaruk). Namun tak jarang CTM ini juga digunakan untuk campuran pada obat-obat flu mengingat efek samping obat ini adalah menimbulkan rasa kantuk ,sehingga diharapkan penderita dapat beristirahat.

CTM memiliki kisaran terapi (batas aman pemakaian) yang cukup besar, serta mempunyai efek samping dan toksisitas yang relatif rendah. Dosis penggunaan CTM yaitu:
Orang dewasa
3-4 kali sehari 4 mg sekali minum, setelah makan.
Dosis maksimum 24 mg sehari.
Anak-anak
> 1 tahun : tidak dianjurkan
1-2 tahun: 1mg 2 kali sehari
2-5 tahun: 1 mg tiap 4-6 jam, dosis maksimum 6 mg per hari
6-12 tahun : 2mg tiap 4-6 jam dosis maksimum 12 mg per hari

Lalu bagaimanakah CTM ini bekerja? Kandungan Chlorpheramine maleat dalam CTM mampu menghambat efek histamine (suatu senyawa yang berperan dalam reaksi imun) pada pembuluh darah, bronkus serta otot-otot polos. Penghambatan efek histamin tersebut dapat menghambat vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah, menurunkan kenaikan aliran limfa serta mengobati reaksi hipersensitif (reaksi alergi yang berlebihan). Berdasarkan cara kerja tersebut CTM digolongkan sebagai obat antihistamin golongan H1. CTM mengurangi rasa nyeri akibat pelebaran kapiler serta mengurangi pembengkakan akibat kenaikan tekanan pada kapiler.

Efek samping dari penggunaan obat ini adalah penghambatan kerja sistem saraf pusat sehingga dapat menimbulkan rasa kantuk, berkurangnya kewaspadaan serta waktu rekasi yang lambat. Oleh karena itu disarankan setelah minum CTM pasien tidak mengendarai kendaraan maupun melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan kewaspadaan. (Nindya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *