Waspadai Makanan Mengandung Zat Pewarna Berbahaya

icg_foodcoloring

Menurut data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di situs resminya, sepanjang 2014 kasus keracunan yang terjadi di Indonesia, 540 disebabkan oleh makanan dan 515 disebabkan oleh minuman. Adapun salah satu faktor penyebabnya adalah penggunaan pewarna yang berbahaya untuk makanan. Bahan pewarna dapat membahayakan bagi kesehatan bila pewarna buatan di tambahkan dalam jumlah berlebih pada makanan, atau dalam jumlah kecil namun dikonsumsi secara terus menerus dalam jangka panjang.

Para penjual makanan menggunakan zat pewarna ini pada dagangannya tentunya berdasarkan faktor keuntungannya, karena hanya dengan modal yang sedikit, tampilan makanan menjadi lebih menarik, sehingga akan meningkatkan minat konsumen terutama untuk anak-anak tanpa memperhatikan keamaan dan kesehatannya.

Penggunaan zat pewarna sebagai bahan tambahan makanan telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 033 tahun 2012 mengenai Bahan Tambahan Pangan. Dalam permenkes tersebut juga disebutkan beberapa bahan tambahan yang dilarang digunakan pada pangan, diantaranya adalah pewarna sintetis Rhodamin B dan Methanil Yellow yang paling sering ditemukan di beberapa produk makanan yang beredar di Indonesia.

Rhodamin B merupakan pewarna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau dan dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar. Rhodamin B merupakan zat warna yang biasanya digunakan pada industri tekstil dan kertas, sebagai pewarna kain, kosmetika, produk pembersih mulut, dan sabun. Zat pewarna berbahaya ini sering disalahgunakan pada pembuatan kerupuk, terasi, cabe merah giling, agar-agar, aromanis, kembang gula, manisan, sosis, sirup, minuman, dan lain-lain. Ciri-ciri pangan yang mengandung zat Rhodamin B diantaranya adalah warnanya cerah mengkilap lebih mencolok, terkadang warna terlihat tidak rata (ada gumpalan warna pada produk), dan bila dikonsumsi rasanya sedikit lebih pahit. Biasanya produk pangan yang mengandung zat ini tidak mencantumkan kode, label, merek, atau identitas lengkap lainnya.

Methanil yellow merupakan bahan pewarna sintetik berbentuk serbuk, berwarna kuning kecoklatan, bersifat larut dalam air dan alkohol. Pewarna ini umumnya digunakan sebagai pewarna pada tekstil, kertas, tinta, plastik, kulit, dan cat. Namun tidak sedikit produsen di Indonesia menyalahgunakan zat ini untuk mewarnai berbagai jenis pangan antara lain kerupuk, mi, tahu, dan pangan jajanan yang berwarna kuning seperti gorengan. Ciri-ciri pangan yang mengandung Methanil yellow adalah produk pangan berwarna kuning mencolok dan berpendar. Selain itu, terdapat titik-titik warna akibat pewarna tidak tercampur secara homogen, misalnya pada kerupuk.

Rhodamin B dan Methanil Yellow berbahaya bagi kesehatan manusia karena sifat kimia dan kandungan logam beratnya. Bahaya akut bila tertelan dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan. Jika terpapar pada bibir dapat menyebabkan bibir pecah-pecah, kering, gatal, bahkan kulit bibir terkepulas. Konsumsi Rhodamin B dan Methanil Yellow dalam jangka panjang dapat terakumulasi di dalam tubuh dan dapat menyebabkan gejala pembesaran hati dan ginjal, gangguan fungsi hati, kerusakan hati, gangguan fisiologis tubuh, atau bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati.

Oleh karena itu konsumen sebaiknya lebih cerdas dan selektif dalam memilih produk pangan, dicermati baik-baik label kemasannya, perhatikan komposisinya dan hindari pangan yang mengandung pewarna tekstil dengan ciri-ciri yang telah disebutkan di atas.

 

Sumber :

Sentra Informasi Keracunan BPOM http://ik.pom.go.id/v2014/

PerMenKes tentang Bahan Tambahan Pangan http://www.pipimm.or.id/view.php?view=1&id=57

Rhodamin B https://www.academia.edu/6849864/Zat_Pewarna_Berbahaya_Rhodamin_B

Methanil Yellow http://ik.pom.go.id/v2014/artikel/Bahaya-Metanil-Yellow-pada-Pangan3.pdf

http://eprints.undip.ac.id/44469/3/Anthony_Susilo_22010110120121_Bab2KTI.pdf

http://eprints.ums.ac.id/1003/1/K100040123.pdf

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/10/jtptunimus-gdl-s1-2008-srisugiyat-489-2-bab1.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *