Apakah Baik Mengonsumsi Obat Diet?

Diet-Pills

Pernahkah Anda mencoba menurunkan berat badan dengan mengonsumsi obat diet? Sebaiknya Anda berhati-hati karena ada kemungkinan obat tertentu mengandung bahan yang berbahaya bagi tubuh, sehingga menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

Bagi sebagian orang, cara menurunkan berat badan cukup sederhana yakni dengan pola makan yang sehat dan olah raga teratur. Namun, bagi sebagian lainnya, hal itu tidaklah cukup untuk menurunkan berat badan. Maka, diperlukan peranan obat diet atau obat penurun berat badan. Obat diet tidak akan secara ajaib menghilangkan lemak dari tubuh. Beberapa obat dapat menurunkan berat badan hingga 5% bila disertai dengan diet dan olah raga.

Penurunan berat badan hingga 5% ini tentu tidak terlihat banyak, namun memberikan efek yang baik bagi tubuh, seperti menurunkan tekanan darah, menaikkan High Density Lipoprotein (HDL), menurunkan kadar gula darah, serta menaikkan sensitivitas insulin.

Namun demikian, obat diet tidaklah cocok untuk semua orang. Berdasarkan guideline yang dikeluarkan oleh Endocrine Society, obat-obat ini hanya cocok untuk orang yang masuk kategori obesitas, atau yang memiliki BMI (Body Mass Index) 30 atau lebih. Obat-obat ini juga dapat digunakan untuk pasien overweight dengan penyakit akibat kelebihan berat badan seperti penyakit jantung dan hipertensi.

Penggunaan obat diet tentunya memiliki risiko. Pada tahun 2010, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menarik enam merek obat diet dari pasaran karena mengandung sibutramin, senyawa yang mampu meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular. Selain itu, obat-obat diet yang mengandung bahan ephedra, phenytoin, rimonabant, atau phenolphtalein juga telah dilarang karena terbukti berbahaya bagi tubuh.

Orlistat, salah satu obat diet yang mekanisme aksinya memblok absorbsi lemak, dapat memiliki efek samping berupa berat badan yang kembali naik apabila pola hidup sehat tidak diterapkan, keram perut, sering buang air besar, serta tubuh sulit menyerap vitamin A, D, E, dan K dalam waktu tertentu.

Obat–obat diet lain kebanyakan bekerja dengan mengurangi nafsu makan, seperti benzphetamine, dietilpropion, lorcaserin, naltrexone, phendimetrazine, dan phentermine. Obat-obat ini kebanyakan memiliki efek samping seperti penaikan tekanan darah, pusing, mual, muntah, konstipasi, dan insomnia. Sebagian obat diet seperti phentermine sebaiknya dihindari oleh wanita hamil dan menyusui, serta orang dengan riwayat stroke, tekanan darah tinggi, serangan jantung, hipertiroidisme, dan glaukoma. Risiko di atas tidak sepenuhnya melarang seseorang untuk mengonsumi obat diet. Namun, pastikan bahwa obat tersebut telah terdaftar di BPOM, berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lainnya, serta selalu baca aturan pakai, kontra indikasi, dan efek samping, terutama bagi orang yang beresiko terkena penyakit tertentu. Jangan lupa untuk mengubah gaya hidup agar manfaat dan efek dari obat diet dapat bertahan dalam waktu yang lama. (Suci)

Sumber:

http://www.livescience.com/51896-weight- loss-drugs- pros-cons.html

http://www.everydayhealth.com/news/things-your- doctor-wont- tell-you- about-

weight-loss- drugs/

http://www.webmd.com/diet/obesity/weight-loss- prescription-weight- loss-

medicine

http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/weight- loss/in-depth/weight- loss-

drugs/art-20044832?pg=2

http://www.alodokter.com/amankah-mengonsumsi- pil-pelangsing

2 Comments

  1. Terima kasih infonya,
    sangat bermanfaat sekali dan menambah pengetahuan.
    salam kenal dan makin sukses

  2. informasi yang bagus sekali semoga info ini bermanfaat bagi orang lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *